PENTINGNYA BAHASA ARAB [1]
Imam Syafi’i berkata: “Manusia tidak menjadi bodoh dan selalu berselisih
paham kecuali lantaran mereka meninggalkan bahasa Arab, dan lebih mengutamakan
konsep Aristoteles.”[2]
Itulah ungkapan Imam Syafi’i buat umat, agar kita jangan memarginalkan
bahasa kebanggaan umat Islam. Seandainya sang imam menyaksikan kondisi umat
sekarang ini terhadap bahasa Arab, tentulah keprihatian beliau akan semakin
memuncak.
Bahasa Arab berbeda dengan bahasa-bahasa lain yang menjadi alat komunikasi
di kalangan umat manusia. Ragam keunggulan bahasa Arab begitu banyak. Idealnya,
umat Islam mencurahkan perhatiannya terhadap bahasa ini. Baik dengan
mempelajarinya untuk diri mereka sendiri ataupun memfasilitasi dan mengarahkan
anak-anak untuk tujuan tersebut.
Di masa lampau, bahasa Arab sangat mendapatkan tempat di hati kaum muslimin.
Ulama dan bahkan para khalifah tidak melihatnya dengan sebelah mata. Fashahah
(kebenaran dalam berbahasa) dan ketajaman lidah dalam berbahasa menjadi salah
satu indikasi keberhasilan orang tua dalam mendidik anaknya saat masa kecil.
Redupnya pehatian terhadap bahasa Arab nampak ketika penyebaran Islam sudah
memasuki negara-negara ‘ajam (non Arab). Antar ras saling berinteraksi dan
bersatu di bawah payung Islam. Kesalahan ejaan semakin dominan dalam
perbincangan. Apalagi bila dicermati realita umat Islam sekarang pada umumnya,
banyak yang menganaktirikan bahasa Arab. Yang cukup memprihatinkan ternyata,
para orang tua kurang mendorong anak-anaknya agar dapat menekuni bahasa Arab.
KEISTIMEWAAN BAHASA ARAB
- Bahasa Arab adalah bahasa Al Quran. Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kalian memahaminya.” [3]
- Bahasa Arab adalah bahasa Nabi Muhammad dan bahasa verbal para sahabat. Hadits-hadits Nabi yang sampai kepada kita dengan berbahasa Arab. Demikian juga kitab-kitab fikih, tertulis dengan bahasa ini. Oleh karena itu, penguasaan bahasa Arab menjadi pintu gerbang dalam memahaminya.
- Susunan kata bahasa Arab tidak banyak. Kebanyakan terdiri atas susunan tiga huruf saja. Ini akan mempermudah pemahaman dan pengucapannya.
- Indahnya kosa kata Arab. Orang yang mencermati ungkapan dan kalimat dalam bahasa Arab, ia akan merasakan sebuah ungkapan yang indah dan gamblang, tersusun dengan kata-kata yang ringkas dan padat.
PETUNJUK BELAJAR BAHASA ARAB
1. Teguran Keras Terhadap Kekeliruan Dalam Berbahasa.
Berbahasa yang baik dan benar sudah menjadi tradisi generasi Salaf. Oleh karena itu, kekeliruan dalam pengucapan ataupun ungkapan yang tidak seirama dengan kaidah bakunya dianggap sebagai cacat, yang mengurangi martabat di mata orang banyak. Apalagi bila hal itu terjadi pada orang yang terpandang. Ibnul Anbari menyatakan: “Bagaimana mungkin perkataan yang keliru dianggap baik…? Bangsa Arab sangat menyukai orang yang berbahasa baik dan benar, memandang orang-orang yang keliru dengan sebelah mata dan menyingkirkan mereka.”
Umar bin Khaththab pernah mengomentari cara memanah beberapa orang dengan
berucap: “Alangkah buruk bidikan panah kalian”. Mereka menjawab: Qawm
muta`allimiin nahnu (kami adalah para pemula), [4]” maka Umar berkata,
”Kesalahan berbahasa kalian lebih fatal menurutku daripada buruknya didikan
kalian… “[5]
2. Perhatian Salaf Terhadap Bahasa Arab.
Umar bin Khaththab pernah menulis surat kepada Abu Musa yang berisi pesan:
“Amma ba’du, pahamilah sunnah dan pelajarilah bahasa Arab.”
Pada kesempatan lain, beliau mengatakan: “Semoga Allah merahmati orang yang
meluruskan lisannya (dengan belajar bahasa Arab).”
Pada kesempatan lain lagi, beliau menyatakan: “Pelajarilah agama, dan ibadah
yang baik, serta mendalami bahasa Arab.”
Beliau juga mengatakan: “Pelajarilah bahasa Arab, sebab ia mampu menguatkan
akal dan menambah kehormatan.” [6]
Para ulama tidak mengecilkan arti bahasa Arab. Mereka tetap memberikan
perhatian yang besar dalam menekuninya, layaknya ilmu syar’i lainnya. Sebab
bahasa Arab adalah perangkat dan sarana untuk memahami ilmu syariat.
Imam Syafi’i pernah berkata: “Aku tinggal di pedesaan selama dua puluh
tahun. Aku pelajari syair-syair dan bahasa mereka. Aku menghafal Al Qur’an.
Tidak pernah ada satu kata yang terlewatkan olehku, kecuali aku memahami
maknanya.”
Imam Syafi’i telah mencapai puncak dalam penguasaan bahasa Arab, sehingga
dijuluki sebagai orang Quraisy yang paling fasih pada masanya. Dia termasuk
yang menjadi rujukan bahasa Arab.
Ibnul Qayyim juga dikenal memiliki perhatian yang kuat terhadap bahasa Arab.
Beliau belajar kepada Ibnul Fathi Al Ba’li kitab Al Mulakhkhash karya Abul
Baqa`, Al Jurjaniyah, Alfiyah Ibni Malik, Al Kafiyah Asy Syafiah dan At Tashil.
Beliau juga belajar dari Ali bin Majd At Tusi.
Ulama lain yang terkenal memiliki perhatian yang besar terhadap bahasa Arab
adalah Imam Syaukani. Ulama ini menimba ilmu nahwu dan sharaf dari tiga ulama
sekaligus, yaitu: Sayyid Isma’il bin Al Hasan, Allamah Abdullah bin Ismail An
Nahmi, dan Allamah Qasim bin Muhammad Al Khaulani.
3. Anak-Anak Khalifah Juga Belajar Bahasa Arab.
Para khalifah, dahulu juga memberikan perhatian besar terhadap bahasa Arab.
Selain mengajarkan pada anak-anak dengan ilmu-ilmu agama, mereka juga
memberikan jadwal khusus untuk memperdalam bahasa Arab dan sastranya. Motivasi
mereka, lantaran mengetahui nilai positif bahasa Arab terhadap gaya ucapan
mereka, penanaman budi pekerti, perbaikan ungkapan dalam berbicara, modal dasar
mempelajari Islam dari referensinya. Oleh karena itu, ulama bahasa Arab juga
memiliki kedudukan dalam pemerintahan dan dekat dengan para khalifah. Para
pakar bahasa menjadi guru untuk anak-anak khalifah.
Al Ahmar An Nahwi berkata, "Aku diperintahkan Ar Rasyid untuk mengajarkan
sastra Arab kepada anaknya, Muhammad Al Amin. Al Makmun dan Al Amin juga pernah
dididik pakar bahasa yang bernama Abul Hasan ‘Ali bin Hamzah Al Kisai yang
menjadi orang dekat Khalifah. Demikian juga pakar bahasa lain yang dikenal
dengan Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin As Sari mengajari anak-anak Khalifah
Al Mu’tadhid pelajaran bahasa Arab. Juga Abu Qadim Abu Ja’far Muhammad bin Qadim
mengajari Al Mu’taz sebelum memegang tampuk pemerintahan.”
PENGARUH BAHASA ARAB UNTUK PENDIDIKAN
1. Mempermudah Penguasaan Terhadap Ilmu Pengetahuan.
Islam sangat menekankan pentingnya aspek pengetahuan melalui membaca. Allah berfirman: “Bacalah dengan nama Rabb-mu yang menciptakan.” [Al ‘Alaq : 1].
Melalui bahasa Arab, orang dapat meraih ilmu pengetahuan. Sebab bahasa Arab
telah menjadi sarana mentransfer pengetahuan.
Bukti konkretnya, banyak ulama yang mengabadikan berbagai disiplin ilmu
dalam bait-bait syair yang lebih dikenal dengan nazham (manzhumah atau
nazhaman). Dengan ini, seseorang akan relatif lebih mudah mempelajarinya,
lantaran tertarik pada keindahan susunannya, dan menjadi keharusan untuk
menghafalnya bagi orang yang ingin benar-benar menguasainya dengan baik.
Sebagai contoh, kitab Asy Syathibiyah Fi Al Qiraati As Sab’i Al Mutawatirati
‘Anil Aimmati Al Qurrai As Sab’ah, adalah matan syair yang berisi pelajaran
qiraah sab’ah, karangan Imam Al Qasim bin Firah Asy Syathibi. Buku lain
berbentuk untaian bait syair. Kemudian Al Jazariyah, yaitu buku tentang tajwid
karya Imam Muhammad bin Muhammad Al Jazari. Dalam bidang ilmu musthalah hadits,
ada kitab Manzhumah Al Baiquniyah, karya Syaikh Thaha bin Muhammad Al Baiquni.
Dan masih banyak contoh lainnya.
2. Meningkatkan Ketajaman Daya Pikir.
Dalam hal ini, Umar bin Khaththab berkata,”Pelajarilah bahasa Arab. Sesungguhnya ia dapat menguatkan akal dan menambah kehormatan.”
Pengkajian bahasa Arab akan meningkatkan daya pikir seseorang, lantaran di
dalam bahasa Arab terdapat susunan bahasa indah dan perpaduan yang serasi antar
kalimat. Hal itu akan mengundang seseorang untuk mengoptimalkan daya imajinasi.
Dan ini salah satu factor yang secara perlahan akan menajamkan kekuatan
intelektual seseorang. Pasalnya, seseorang diajak untuk merenungi dan
memikirkannya. Renungkanlah firman Allah: “Barangsiapa yang menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah
jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat
yang jauh.” [Al Hajj : 31].
Lantaran dahsyatnya bahaya syirik kepada Allah, maka permisalan orang yang
melakukannya bagaikan sesuatu yang jatuh dari langit yang langsung disambar
burung sehingga terpotong-potong tubuhnya. Demikian perihal orang musyrik,
ketika ia meninggalkan keimanan, maka syetan-syetan ramai-ramai menyambarnyanya
sehingga terkoyak dari segala sisi, agama dan dunianya, mereka hancurkan. [7]
3. Mempengaruhi Pembinaan Akhlak.
Orang yang menyelami bahasa Arab, akan membuktikan bahwa bahasa ini merupakan
sarana untuk membentuk moral luhur dan memangkas perangai kotor.
Berkaitan dengan itu, Ibnu Taimiyah berkata: “Ketahuilah, perhatian terhadap
bahasa Arab akan berpengaruh sekali terhadap daya intelektualitas, moral, agama
(seseorang) dengan pengaruh yang sangat kuat lagi nyata. Demikian juga akan
mempunyai efek positif untuk berusaha meneladani generasi awal umat ini dari
kalangan sahabat, tabi’in dan meniru mereka, akan meningkatkan daya kecerdasan,
agama dan etika”. [8]
Misalnya, penggalan syair yang dilantunkan Habib bin Aus yang menganjurkan
berperangai dengan akhlak yang baik :
يـَعِيْشُ المْـَرْءُ مَا اسْتَحْيـَا بِخَيْرٍ وَيَبْـقَى
العُودُ مَا بَقِيَ اللِّحَاءُ
فَلاَ وَاللهِ مَا فِي العَيْشِ خَيْـــرٌ وَلاَ الدُّنْيـَا إِذَا ذَهَبَ الْحَيَاءُ
فَلاَ وَاللهِ مَا فِي العَيْشِ خَيْـــرٌ وَلاَ الدُّنْيـَا إِذَا ذَهَبَ الْحَيَاءُ
Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama ia mempunyai rasa malu
Batang pohon senantiasa abadi, selama kulitnya belum terkelupas
Demi Allah, tidak ada sedikit pun kebaikan dalam kehidupan,
Demikian juga di dunia, bila rasa malu telah hilang sirna
Batang pohon senantiasa abadi, selama kulitnya belum terkelupas
Demi Allah, tidak ada sedikit pun kebaikan dalam kehidupan,
Demikian juga di dunia, bila rasa malu telah hilang sirna
Juga ada untaian syair yang melecut orang agar menjauhi tabiat buruk. Imam
Syafi’i mengatakan:
إِذَا رَمَيْتَ أَنْ تَحْيَا سَلِيْمًا مِنَ الرَّدَى
وَدِيْنُكَ مَوْفُوْرٌ وَعِرْضُـكَ صَيـِّنُ
فَلاَ يَنْطِقـَنَّ مِنْكَ اللِّساَنُ بِسَـوءَةٍ فَكُلُّــكَ سَوْءَاتٌ وَلِلنَّاسِ أَعْيـُنُ
فَلاَ يَنْطِقـَنَّ مِنْكَ اللِّساَنُ بِسَـوءَةٍ فَكُلُّــكَ سَوْءَاتٌ وَلِلنَّاسِ أَعْيـُنُ
Bila dirimu ingin hidup dengan bebas dari kebinasaan,
(juga) agamamu utuh dan kehormatanmu terpelihara,
Janganlah lidahmu mengungkit cacat orang,
Tubuhmu sarat dengan aib, dan orang (juga) memiliki lidah.
(juga) agamamu utuh dan kehormatanmu terpelihara,
Janganlah lidahmu mengungkit cacat orang,
Tubuhmu sarat dengan aib, dan orang (juga) memiliki lidah.
Jadi, bahasa Arab tetap penting, Bahkan menjadi ciri khas kaum muslimin.
Seyogyanya menjadi perhatian kaum muslimin. Dengan memahami bahasa Arab,
penguasaan terhadap Al Qur’an dan As Sunnah menjadi lebih mudah. Pada
gilirannya, akan mengantarkan orang untuk dapat menghayati nilai-nilainya dan
mengamalkannya dalam kehidupan.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Diangkat dari Al Atsaru At Tarbawiyah Li Dirasati Al Lughah Al ‘Arabiyyah, karya Dr. Khalid bin Hamid Al Hazimi, osen Fakultas Dakwah dan Ushuliddin Universitas Islam Madinah. Majalah Jami’ah Islamiyyah, edisi 125 Th 1424 H.
[2]. Siyaru A’lamin Nubala : 10/74.
[3]. QS Az Zukhruf : 3.
[4]. Seharusnya: Nahnu qawm muta`allimuun
[5. Al Malahin, karya Ibnu Duraid Al Azdi, hlm. 72.
[6]. Tarikh Umar bin Khaththab, karya Ibnul Jauzi, 225.
[7]. Tafsir As Sa’di.
[8]. Iqtidha Shiratil Mustaqim, hlm. 204
Footnote
[1]. Diangkat dari Al Atsaru At Tarbawiyah Li Dirasati Al Lughah Al ‘Arabiyyah, karya Dr. Khalid bin Hamid Al Hazimi, osen Fakultas Dakwah dan Ushuliddin Universitas Islam Madinah. Majalah Jami’ah Islamiyyah, edisi 125 Th 1424 H.
[2]. Siyaru A’lamin Nubala : 10/74.
[3]. QS Az Zukhruf : 3.
[4]. Seharusnya: Nahnu qawm muta`allimuun
[5. Al Malahin, karya Ibnu Duraid Al Azdi, hlm. 72.
[6]. Tarikh Umar bin Khaththab, karya Ibnul Jauzi, 225.
[7]. Tafsir As Sa’di.
[8]. Iqtidha Shiratil Mustaqim, hlm. 204
Sumber:
https://almanhaj.or.id/3102-pentingnya-bahasa-arab.html
Gambar dari pencarian Google
https://almanhaj.or.id/3102-pentingnya-bahasa-arab.html
Gambar dari pencarian Google

Tidak ada komentar:
Posting Komentar